Tapung, Kampar – Penderitaan warga Desa Indrapuri, Kecamatan Tapung, kini tak lagi bisa ditutup-tutupi. Abu hitam yang diduga berasal dari aktivitas pabrik terus “menyerbu” rumah-rumah warga. Kali ini, keluhan tersebut meledak ke ruang publik dan viral di media sosial, khususnya Facebook.Rabu,08-04-2026.
Berbagai unggahan warga memperlihatkan kondisi nyata di lapangan: lantai rumah yang menghitam, perabotan tertutup debu, hingga udara yang tampak keruh. Unggahan itu bukan sekadar curahan hati, melainkan jeritan keresahan yang selama ini dirasa diabaikan.
Setiap hari dibersihkan, setiap hari juga kotor lagi. Ini bukan normal,” tulis salah satu warga dalam postingannya.
Fenomena ini semakin menguatkan dugaan bahwa limbah udara dari proses pembakaran (boiler) pabrik tidak terkendali. Jika terbukti benar, kondisi ini bukan hanya melanggar etika lingkungan, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Yang lebih memprihatinkan, hingga saat ini belum terlihat langkah konkret dari pihak terkait. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kampar dinilai lamban merespons, sementara pihak manajemen /Humas PT BMK Wiko belum memberikan keterangan resmi saat dikonfirmasi.
Sikap diam tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah harus viral terlebih dahulu di media sosial agar mendapat perhatian.
Warga Jalur 1C, Dusun 1, Desa Indrapuri, kini hidup dalam kecemasan. Mereka tidak hanya menuntut penjelasan, tetapi juga langkah nyata—mulai dari pengawasan ketat, evaluasi menyeluruh, hingga penindakan tegas terhadap pihak yang terbukti mencemari lingkungan.
Kasus ini menjadi ujian bagi pemerintah daerah. Apakah akan berpihak kepada masyarakat yang setiap hari terpapar abu, atau tetap diam di tengah tekanan publik yang semakin meluas?
Satu hal yang pasti, suara warga kini tidak lagi bisa dibungkam. Dari dalam rumah yang dipenuhi abu, mereka telah bersuara—dan kini publik luas ikut mendengar.(Aulia)